JelajahNTT. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Kliping Berita Penerbangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping Berita Penerbangan. Tampilkan semua postingan

Bandara Baru di Yogya Ditargetkan Beroperasi 2018

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT. Angkasa Pura I Tommy Soetomo menyatakan pihaknya mempersiapkan konsep pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta agar ideal sebagai bandara berskala internasional.

"Bandara baru Yogya ini bakal jadi bandara modern dengan fasilitas intermoda," ujar Tommy di sela pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Keraton Kilen Yogyakarta Kamis, 5 Feberuari 2015.

Sarana intermoda yang dimaksud yakni lajur khusus kereta api yang bisa mengakses langsung area bandara. Satu-satunya bandara di Indonesia yang sudah memiliki intermoda ini hanya Bandara Kuala Namu, Medan, Sumatera Utara.

Pihak Angkasa Pura bersama Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada Kamis mengecek langsung lokasi pembangunan bandara pengganti Bandara Adi Sutjipto tersebut di Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo. Usai cek lokasi calon bandara, Menteri Jonan dan Angkasa Pura menggelar pertemuan dengan Pemerintah DIY, dan Badan Pertanahan Nasional dialog ihwal tahapan pembangunan yang bakal berdiri di lahan 630 hektar itu.

Tommy menuturkan, konsep desain awal bandara baru Yogya ini memiliki landasan pacu (runway) minimal 3.250 meter. Bandara lama Adi Sutjipto Yogya saat ini hanya memiliki landasan pacu sepanjang 2.200 meter. "Dengan landasan pacu sepanjang itu, pesawat penumpang terbesar bisa masuk," ujar Tommy.
 
Tak hanya kawasan Asia dan Eropa yang diprediksi bisa terbuka akses penerbangan langsungnya (direct flight). Dengan masuknya pesawat besar, lanjut Tommy, sangat memungkinkan Yogya menjadi kawasan embarkasi haji baru dengan jalur langsung ke tanah suci. "Dari Yogya jadi bisa langsung ke Jedah, tak perlu mampir Dhoha, Qatar,Dubai," ujar Tommy.

Angkasa Pura pun mendorong berdirinya bandara baru Yogya di kawasan pesisir pantai selatan itu diikuti niat pemerintah daerah membangun infrastruktur pendukung dan menggalang investasi guna menyerap tenaga kerja masyarakat. "Tak hanya jadi bandara, tapi terbentuknya kota satelit baru," kata Tommy.

Untuk tahap pertama, Angkasa Pura dalam desainnya juga mengalokasikan sekitar 110 ribu meter persegi dari luasan lahan untuk membangun terminal bandara dulu. Terminal ini akan dilengkapi sarana parkir pesawat (parking stand) sebanyak 40 unit.

"Titik parkirnya delapan kali lebih banyak dari (bandara) Adi Sutjipto," kata Tommy. Namun jumlah titik parkir pesawat ini dimungkinkan juga akan bertambah kaena total alokasi lahan untuk terminal bandara baru ini sudah dialokasikan 200 ribu meter persegi.

Tommy belum menyebut total perkiraan biaya untuk pembangunan bandara baru Yogya yang ditarget bisa menampung 15 juta penumpang tiap tahunnya itu. Hanya saja untuk terminalnya, Angkasa Pura menyiapkan anggaran Rp 1 triliun. "Semua (pembiayaan) masih dari Angkasa Pura sendiri, belum usulkan ke pemerintah," kata Tommy.

Untuk bandara baru ini targetnya Februari 2015 ini rampung tahap konsultasi publik. Dan proses penerbitan Izin Penetapan Lokasi oleh pemerintah DIY. Setelah itu, pihak Badan Pertanahan Nasional akan proses pembebasan lahan bandara yang meliputi lahan milik 2.500 kepala keluarga dari lima desa Kecamatan Temon. Yakni Jangkaran, Paliyan, Kebonrejo, Sindutan, dan Glagah.

"Pembebasan lahan tahun ini rampung, tahun 2016 sampai 2017 pembangunan, dan tahun 2018 bisa beroperasi," ujar Tommy soal target pembangunan bandara.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, jika Angkasa Pura tepat waktu dalam tahap konsultasi publik, dokumen IPL segera bisa diterbitkan pemerintah daerah. "Kami akan percepat IPL-nya begitu konsultasi publik selesai," ujar Sultan.

Hanya saja, Sultan masih menyoal soal pembebasan lahan. Karena masih ada sebagain warga menolak relokasi dan belum jelas status tanah serta luasan yang jadi patokan ganti rugi.

PRIBADI WICAKSONO
Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PMN Tersumbat, Pengembangan Bandara Soekarno-Hatta Terhambat

Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Budi Karya Sumadi menyatakan apabila tahun ini perusahaan yang dipimpinnya tidak mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2015 maka rencana pembangunan bandara Soekarno-Hatta akan terhambat.

"Kami tidak bisa menolak kalau itu sudah jadi keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tapi ya konsekuensinya akan terjadi perlambatan pengembangan bandara Soekarno-Hatta," kata Budi sebelum mengikuti rapat dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Kamis (5/2).

Budi menilai keengganan anggota DPR untuk menyetujui pemberian PMN bagi Angkasa Pura II sebagai suatu peringatan agar perusahaan yang baru dipimpinnya itu dapat mengelola uang negara dengan sebaik-baiknya.

"Saya melihat komentar DPR itu sebagai hikmah bahwasanya kalau kamu mendapat amanah, jangan sesukanya. Itu pesannya. Jadi saya cukup positif karena itu merupakan suatu peringatan bagi saya," terangnya.

Dia menegaskan dengan kondisi keuangan saat ini, perusahaannya memiliki keterbatasan dalam mencari pinjaman. Sehingga PMN tersebut dibutuhkan untuk mendapatkan kapasitas pinjaman yang lebih besar.

"Kalau disuruh membesarkan atau membuat bandara itu baik sekali tapi tidak mungkin kalau kami tidak punya equity," pungkasnya.

Dalam materi paparan yang disampaikan Budi di depan anggota DPR beberapa waktu lalu, diketahui Angkasa Pura II hanya memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 385,28 miliar. Sementara kebutuhan investasi untuk pengembangan Soekarno-Hatta sampai 2021 sebesar Rp 41 triliun. Investasi untuk membangun Soekarno-Hatta mencakup 64 persen dari total kebutuhan investasi Angkasa Pura II sebesar Rp 63,3 triliun yang akan digunakan untuk mengembangkan bandara lain.

Menurut Budi dengan target EBITDA 2014 sebesar Rp 2,7 triliun, maka manajemen perusahaan hanya bisa mengupayakan pinjaman maksimal Rp 15 triliun. Jadi secara keseluruhan masih kurang Rp 48,3 triliun. Sementara jika ditambah PMN yang diharapkan sampai 2021 bisa berjumlah Rp 13 triliun, maka kekurangannya akan turun menjadi Rp 20 triliun.
 
Mantan bos PT Jakarta Property tersebut menyatakan rencana investasi Soekarno-Hatta yang akan memakan dana besar akan terjadi pada 2015 dan 2016 yaitu masing-masing sebesar Rp 12 triliun dan Rp 17 triliun. Sebagian besar dari dana tersebut dibutuhkan untuk mengakuisisi tanah yang akan digunakan untuk membangun landasan pacu terminal 4.

Sementara menurut keterangan dalam materi presentasi tersebut, manajemen Angkasa Pura II menilai akuisisi tanah tidak bisa dibiayai menggunakan pinjaman. Sehingga dibutuhkan pendanaan yang berasal dari PMN.
Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Konferensi keselamatan penerbangan yang diadakan PBB, rekomendasikan pesawat dilacak setiap 15 menit

Negara-negara Anggota Badan Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) telah merekomendasikan untuk mengadopsi sebuah standar sistem pelacakan pesawat setiap 15 menit yang "akan menjadi suatu langkah pertama yang penting dalam memberikan dasar untuk pelacakan penerbangan global."

Rekomendasi tersebut dibuat pada hari Selasa (3/2) oleh lebih dari 850 peserta pada Konferensi tingkat tinggi untuk keamanan 2015 di markas badan penerbangan ICAO PBB di Montreal, Kanada.

Kekhawatiran atas pelacakan pesawat dan risiko terhadap penerbangan sipil yang timbul dari zona konflik dibawa ke siding menyusul jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 tahun 2014 di atas Ukraina timur, dan hilangnya pesawat Malaysia Airlines saat lepas landas dari Kuala Lumpur, Malaysia .

"Standar baru ini akan menjadi langkah awal yang penting dalam menyediakan sebuah landasan untuk pelacakan penerbangan global dan kelanjutan dari penerapan Sistem Marabahaya dan Keamanan Penerbangan Global ICAO (GADSS)," kata Presiden Dewan ICAO, Dr. Olumuyiwa Benard Aliu dalam sebuah rilis berita.

"Melalui sebuah proses yang dipercepat, dokumen sekarang akan dikirim ke Negara-negara Anggota kami sebelum akhir bulan ini untuk mendapatkan komentar secara resmi, dan kami sangat menantikan pengadopsiannya oleh Dewan [IACO] paling cepat musim gugur ini," Aliu menjelaskan.

Negara-negara Anggota pada hari Selasa (3/2) juga mendukung pengembangan sumber daya online purwarupa untuk melakukan penilaian risiko di zona konflik.

"Di bawah Konvensi Chicago, setiap Negara bertanggung jawab dalam melakukan penilaian risiko penerbangan sipil di zona konflik di wilayah mereka sendiri, dan untuk memastikan bahwa informasi tersebut tersedia dengan cepat untuk negara lain dan penerbangan," menurut Aliu.

"Satuan Tugas kami melakukan sidang menyusul hilangnya MH17, yang menunjukkan bahwa kedua Negara dan maskapai penerbangan bisa mendapatkan keuntungan dari informasi yang dibagikan secara lebih luas mengenai zona konflik, termasuk penilaian risiko untuk daerah konflik tertentu, dan sebuah pusat sumber daya online dapat membantu memfasilitasi pertukaran informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut," ujarnya, saat mengacu kepada jatuhnya pesawat penerbangan Malaysia Airlines tahun lalu.

Menurut ICAO, "tujuan ini dimaksudkan untuk pusat repositori yang akan diselenggarakan oleh ICAO dan untuk berfungsi sebagai sumber daya tunggal untuk penilaian risiko yang terbaru dari Negara-negara dan organisasi internasional yang bersangkutan."

Berbagai prioritas lain yang didukung oleh konferensi, yang akan berakhir besok (Kamis, 5/2, waktu setempat), termasuk harmonisasi terminologi yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap risiko, kajian komprehensif tentang persyaratan yang telah ada, dan format untuk pesan, serta inisiatif yang dipimpin oleh perusahaan untuk berbagi informasi operasional yang lebih transparan dengan metodologi yang diterapkan bagi para penumpang yang memiliki risiko di zona konflik.

ICAO, sebuah badan khusus PBB yang bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengatur perjalanan udara internasional, menetapkan aturan ruang udara, pendaftaran pesawat udara dan keselamatan, serta melakukan audit kepatuhan, melakukan penelitian dan analisa.

Sumber:  UN-hosted aviation safety conference recommends aircraft tracking every 15 minutes

Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Diundur, Pemeringkatan Maskapai Dirilis Juni 2015

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyatakan akan memundurkan rilis peringkat keselamatan maskapai nasional. Peringkat keselamatan maskapai yang awalnya bakal dirilis bulan ini diundur menjadi Juni 2015.

"Juni. Nanti setahun dua kali," kata Jonan di kantornya, Kamis, 5 Februari 2015.

Namun, Jonan menjelaskan, rilis Juni nanti tak akan melansir peringkat keselamatan maskapai. Menurut dia, nantinya hanya akan ada dua kategori untuk maskapai, yaitu lulus atau tak lulus. "Failed atau pass. Begitu saja," kata Jonan.

Sebelumnya, Jonan mengatakan akan merilis peringkat keselamatan pesawat pada bulan ini, dan akan diulang tiga bulan sekali. Peringkat keselamatan semula direncanakan untuk 3-5 kategori.

Pemeringkatan tersebut sebetulnya sudah pernah dilakukan Kementerian pada era Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal sejak Maret 2007. Saat itu, Jusman merilis tiga kategori keselamatan yang dikeluarkan setiap tiga bulan. Pemeringkatan itu dilakukan setelah terjadi kecelakaan Adam Air 574 pada 1 Januari 2007 dan Garuda Indonesia 200 pada 7 Maret 2007.

KHAIRUL ANAM

Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jonan: Penutupan Loket Tiket di Bandara Masih Dibicarakan

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan rencana penutupan loket penjualan tiket di bandar udara masih dibicarakan. Tapi tujuannya, kata dia, adalah untuk memberantas percaloan dan membuat bandara internasional lebih rapi.

"Ini akan dimulainya di bandara-bandara internasional dulu," tutur Menteri Jonan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/2). "Masih dibicarakan, baiknya bagaimana apakah counter-nya di taruh di dalam atau bagaimana."

Jonan mengatakan, sebetulnya tidak ada rencana pelarangan loket tiket maskapai di bandara. Tapi menurutnya seharusnya tak jadi soal karena penjualan tiket penerbangan sudah bisa dilakukan via Internet.

Soal penutupan loket penjualan tiket di bandara ini tertuang dalam surat edaran Menteri Perhubungan Nomor HK.209/I/16PHB.2014 tertanggal 31 Desember 2014. Pengelola Bandara Soekarno-Hatta sendiri berencana memberlakukan rencana itu mulai 15 Februari. Tapi rencana itu menuai pro dan kontra. (Baca:
Kebijakan Penutupan Loket Tiket di Bandara Menuai Pro-Kontra)

Direktur Utama Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi menyambut rencana itu. "Usaha penertiban bagus dong," tuturnya kepada CNN Indonesia, Senin (2/2).

Budi mengatakan maskapai bisa saja berkeberatan terhadap rencana itu.

Adapun pihak maskapai Garuda Indonesia meminta kebijakan itu disosialisasi karena selain penjualan tiket di bandara berkontribusi 10-15 persen dari total penjualan tiket, loket juga diperlukan kalau-kalau maskapai harus melayani refund atau upgrade kelas.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin mengatakan kebijakan itu berpotensi menurunkan pendapatan maskapai. (Baca:
Larangan Jual Tiket di Bandara Akan Gerus Pendapatan Maskapai)

Menurut Tengku, efektivitas kebijakan itu dalam memberantas percaloan masih harus dibuktikan. Meski begitu, INACA mengimbau anggotanya untuk mematuhi keputusan itu.
Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cara Bandung Siasati Aturan Tiket Menteri Jonan

TEMPO.CO , Bandung:Rencana pemerintah menghapus penjualan tiket di sejumlah bandara, menuai beragam reaksi dari pihak maskapai penerbangan. Station Manager Duty Lion Air Group Bandung, Febry Eka Setiawan mengatakan, maskapainya belum melakukan persiapan terkait rencana ini.

Pihaknya, kata Febry, akan berkoordinasi dengan pengelola bandara terkait dengan rencana penutupan konter tersbut. "Kami sedang berbicara dengan pihak Angkasa Pura untuk menyiasati ini," kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 3 Februari 2015.

Menurut Febry, salah satu yang sedang menjadi pembahasan adalah aturan main yang diperbolehkan untuk layanan customer lounge tersebut. "Dengan keputusan Menteri Perhubungan itu sendiri kami masih berat, karena dituntut untuk meniadakan loket. Kami juga concern pada pelayanan, tapi seperti apa bentuknya ini yang sedang dibicarakan," kata dia.

Febry mengakui, selama ini hanya sedikit pengguna jasa penerbangan yang membeli tiket langsung di bandara. Mayoritas membeli tiket lewat gerai online, atau memanfaatkan jasa agen travel. "Hanya beberapa penumpang saja yang membeli tiket langsung, tidak lebih 10 orang, walaupun demikian yang kami antisipasi penumpang yang sifatnya conecting sehingga tetap butuh tempat semacam customer lounge," kata dia.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Ricky Gustiadi mengatakan, belum ada komunikasi dengan pengelola bandara soal rencana penutupan konter penjualan tiket di Bandara Husein. Dia mewanti-wanti, kendati tidak lagi ada loket penjualan tiket pesawat, pihak maskapai dan pengelola bandara harus tetap mempertimbangkan akses calon penumpang mendapat tiket. "Harus tetap ada kemudahan itu, jangan sampai malah kesulitan mencari tiket pesawat," kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 3 Februari 2015.

Ricky mencontohkan, pihak maskapai bisa saja mulai menimbang untuk membuka konter tiket penjualan pesawat di luar kawasan bandara, tapi berada dalam lintasan layanan moda angkutan umum lainnya, atau di pusat-pusat keramaian. "Yang penting kemudahan untuk mendapat tiket itu harus tetap menjadi pertimbangan," kata dia.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengeluarkan surat edaran pada 31 Desember 2014. Surat bernomor HK.209/I/16PHB.2014 itu berisi lima poin perintah yang harus dijalankan pengelola bandara di Tanah Air. Di antaranya, meniadakan ruang penjualan tiket di gedung terminal penumpang, melarang penggunaan taksi yang tidak terdaftar di bandara, memberlakukan larangan merokok di area sisi udara (airside) dan di ruangan yang memiliki akses ke sisi udara. Aturan lainnya adalah memastikan tersedianya customer service lounge dari maskapai untuk melayani kebutuhan penumpang.

AHMAD FIKRI

Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Maskapai Penerbangan Siap Ikuti Aturan Kemenhub

WARTA KOTA, TANGERANG - Beberapa maskapai penerbangan tanah air mengaku siap mengikuti aturan Kemenhub terkait larangan menjual tiket di Bandara Soekarno-Hatta.

Diberitakan sebelumnya oleh Warta Kota, PT Angkasa Pura II akan menghapus keberadaan counter tiket
maskapai yang selama ini beroperasi di terminal-terminal Bandara Soekarno-Hatta. Penghapusan counter tiket akan dilakukan pada pertengahan Februari 2015.

Humas Maskapai Air Asia, Audrey Progestama pada Rabu (4/2/2015) mengatakan, pihaknya sudah siap mengikuti aturan tersebut. "AirAsia akan selalu mendukung keputusan kementerian. Apapun aturannya, akan kami jalankan," kata Audrey.

Menurut Audrey, pembeli tiket Air Asia dewasa ini memang kebanyakan sudah lebih banyak membeli lewat online ketimbang beli lansung di bandara.

"Perbandingannya mungkin 70-30. Sudah lebih banyak yang beli tiket secara online daripada beli di bandara atau di biro perjalanan," kata Audrey.

Hal senada dikatakan Humas Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan. "Tentunya pihak Kementerian Perhubungan sudah mengkaji terlebih dahulu kebijakan ini sebelum memutuskan counter tiket pesawat dihapus," kata Ikhsan.

Ikhsan mengatakan, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi terkait rencana penutupan counter tersebut agar pengguna jasa Garuda Indonesia sudah membeli tiket terlebih dahulu sebelum datang ke bandara.

"Dari sisi kemudahan, memang Garuda Indonesia sudah mudah sekali untuk pesan tiket secara online. Bahkan bayar pun juga bisa online," katanya.

Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Patuhi Jonan, Bandara Husein Tak Lagi Jual Tiket

TEMPO.CO, Bandung - Semua maskapai penerbangan menutup konter penjualan tiket di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. "Kalau perintah dari Direksi, per 15 Februari 2015," kata General Manager PT Angkasa Pura II Cabang Bandara Husein Sastranegara Yayan Hendrayani saat dihubungi Tempo, Selasa, 3 Februari 2015.

Yayan mengatakan pihaknya sudah mengirim surat edaran mengenai rencana penutupan itu kepada semua maskapai sejak pertengahan Januari 2015. "Kami sudah bicara ke semua airline," ujarnya.

Menurut Yayan, pengelola Bandara Husein juga memutuskan tidak lagi memperpanjang ruangan yang kini digunakan sebagai konter loket penjualan tiket. "Sewa ruang tiket tidak akan diperpanjang. Kalau yang belum habis, silakan difungsikan untuk yang lain," tuturnya.

Meski demikian, pengelola Bandara Husein masih membolehkan maskapai menggunakan ruang yang sudah tidak digunakan itu untuk melayani pelanggan. "Akan disulap menjadi semacam customer lounge. Misalnya, mengurus refund (pengembalian) atau terkait masalah layanan tiket tersebut."

Saat ini ada sejumlah maskapai yang membuka konter penjualan tiket di Bandara Husein, di antaranya Lion Air, Garuda Indonesia, Air Asia Indonesia, Susi Air, Sriwijaya Air, Jatayu, serta Citilink.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengeluarkan surat edaran pada 31 Desember 2014. Surat bernomor HK.209/I/16PHB.2014 itu berisi lima poin perintah yang harus dijalankan pengelola bandara di Tanah Air. Di antaranya, meniadakan ruang penjualan tiket di gedung terminal penumpang, melarang penggunaan taksi yang tidak terdaftar di bandara, dan memberlakukan larangan merokok di area sisi udara (airside) dan di ruangan yang memiliki akses ke sisi udara. Aturan lainnya adalah memastikan tersedianya customer service lounge dari maskapai untuk melayani kebutuhan penumpang.

AHMAD FIKRI

Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kebijakan Penutupan Loket Tiket di Bandara Menuai Pro-Kontra

Jakarta, CNN Indonesia -- Instruksi Menteri Perhubungan Ignasius Jonan terkait penutupan loket penjualan tiket di bandara ditanggapi beragam. PT Angkasa Pura (AP) II selaku operator bandara menyambut baik kebijakan tersebut dengan melakukan uji coba mulai 15 Februari 2015, sedangkan PT Garuda Indonesia Tbk yang mewakili maskapai menuntut sosialisasi aktif dari regulator kepada publik.

Sebagai informasi, sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Perhubungan No. HK.209/I/16PHB.2014 tertanggal 31 Desember 2014, operator bandara harus menutup loket penjualan tiket (ticketing counter) di dalam area terminal penumpang.

"Usaha penertiban bagus dong", ujar Direktur Utama AP II Budi Karya Sumadi kepada CNN Indonesia melalui telepon, Senin malam (2/2).

Budi meyakini kebijakan tersebut akan efektif mengurangi aktivitas calo tiket di dalam area bandara sehingga secara langsung akan meningkatkan pelayanan dan keamanan bagi penumpang. Namun, dia menyadari akan ada reaksi negatif dari maskapai penerbangan.

"Keberatan dari maskapai tentu ada, menurut saya," ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo menyatakan saat ini penjualan tiket di loket bandara berkontribusi sekitar 10 hingga 15 persen dari total penjualan tiket di beberapa maskapai penerbangan. Oleh karena itu diperlukan penyesuaian teknis serta sosialisasi ke masyarakat agar tidak mengurangi pelayanan.

"Diperlukan sosialisasi ke masyarakat. Kami juga harus melakukan dorongan karena banyak hal-hal teknis yang perlu dilakukan di airport khususnya dengan layanan di airport. Jadi bukan semata-mata penjualan karena sering ada refund tiket kalau ada penumpang yang tidak jadi terbang," ujarnya.

Handayani, Direktur Komersial Garuda Indonesia, mengatakan pemegang tiket Garuda tidak perlu khawatir terkait berkurangnya pelayanan akibat ditutupnya loket tiket di bandara.

"Untuk layanan customer services seperti refund ticket, upgrade class dan redeempt mileage masih dilayani di airport," ujar Handayani melalui pesan singkat.

Dia menambahkan loket tiket Garuda di bandara nantinya akan diubah menjadi loket layanan pelanggan (customer service counter).
Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kebijakan Hapus Loket Tiket di Bandara Akan Kurangi Pendapatan Maskapai 10-15 Persen

JAKARTA, KOMPAS.com -- Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan wajibkan semua bandara untuk menghapus loket tiket pesawat di bandara dalam tiga bulan mendatang. Menanggapi ini, Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memperkirakan ketiadaan loket tiket di bandara akan memangkas pendapatan maskapai hingga 10-15 persen.

"Apalagi yang sifatnya LCC (low cost carrier), pada umumnya dia jual tiket itu punya kantor di bandara. Meskipun saat ini semua melalui internet, atau ATM," ujar Sekretaris Jendral (Sekjen) INACA Tengku Burhanudin di Jakarta, Selasa (3/2/2015).

Apalagi kata dia, kebijakan itu juga akan berimbas kepada masyarakat. Pasalnya, tak semua masyarakat memahami pemesanan tiket secara online.

"Kalau begini, kita lihat dulu. Kami sendiri melihatnya ya pendapatan mereka itu dengan biasanya didapat dari gerai ya berkurang," kata Tengku.

Namun, ia mengapresiasi sikap Menteri Perhubungan Ignasius Jonan karena memiliki niat baik menghapus praktek calo di bandara saat pembelian tiket di loket bandara. Ia pun berharap dengan kebijakan itu pelayanan di bandara semakin baik.

"Kalau kita lihat di luar negeri tidak ada dijual tiket di bandara. Pada umumnya orang yang ke bandara itu sudah siap traveling. Jadi nanti kita lihat setelah dilaksanakan ini, apakah benar begitu. Diuji dulu, kalau memang calo lantas hilang berarti memang benar," ucapnya.

Sebelumnya, Kemenhub mengeluarkan surat edaran yang tertuang dalam Surat bernomor HK 209/I/I6PHB.2014. Salah satu poinnya mengharuskan seluruh maskapai menghapuskan penjualan tiket di gedung terminal penumpang mulai 15 Februari 2015.

Tapi Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memberi tenggat waktu tiga bulan kepada semua bandara untuk menghapus loket tiket pesawat di bandara. Dengan begitu, aturan penghapusan loket tak berlaku pada 15 Februari 2015 nanti.

Jonan kemudian mewajibkan semua bandara menyediakan customer service sebagai pengganti dihapusnya loket tiket di bandara. Hal itu dinilai penting untuk melayani penumpang pesawat yang membutuhkan layanan bantuan terkait tiket pesawat.


Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Bayu Galih
Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Garuda Harus Jadi Bintang Kelas

Pekan lalu, maskapai nasional Garuda Indonesia menerima penghargaan "Maskapai Bintang Lima" yang diserahkan oleh CEO Skytrax Edward Plaisted. Akhir tahun lalu, Skytrax telah mengumumkan penghargaan yang merupakan kelas tertinggi dalam pelayanan maskapai.

Di seluruh dunia , hanya ada tujuh maskapai yang mendapat penghargaan serupa. Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo, yang baru dipilih di penghujung tahun lalu, bertekad mempertahankan posisi Garuda sebagai maskapai bintang lima. Bahkan, Arif ingin membawa Garuda menjadi bintang kelas. Apa saja yang akan dilakukan Arif untuk mencapainya, berikut penuturan mantan CEO Citilink Indonesia tersebut saat berbincang di kantor Garuda, Cengkareng, beberapa waktu lalu.

Selamat, Garuda berhasil menjadi maskapai bintang lima. Apa artinya penghargaan ini bagi Garuda?
Penghargaan ini menjadi salah satu milestone penting bagi perusahaan karena merupakan bentuk pengakuan dunia atas transformasi dan peningkatan berbagai aspek yang terus dilaksanakan Garuda secara konsisten melalui program "Quantum Leap". Dulu kita ranking 27 dunia. Tidak masuk radar maskapai kelas dunia. Kemudian naik ke ranking 19, kemudian 11, lalu ranking delapan dan sekarang ranking tujuh.

Jadi hasil ini merupakan bukti komitmen manajemen dan karyawan Garuda Indonesia untuk terus memberikan hal yang terbaik. Tahun sebelumnya kita meraih predikat sebagai maskapai dengan awak kabin terbaik, dan akhir tahun lalu Garuda dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh maskapai bintang lima yang ada di dunia. Jadi Garuda sekarang sudah berada pada tingkat tinggi, the ultimate level of the airline bussines.

Ini akan kita pertahankan tidak boleh turun kelas. Pengakuan dunia terhadap Garuda tentunya akan semakin mendorong kita untuk terus melanjutkan berbagai program peningkatan yang dilaksanakan untuk menghadirkan kualitas dan standar pelayanan terbaik bagi para pengguna jasa. Jadi kita sudah naik kelas, tapi tidak boleh berhenti di situ. Garuda juga harus jadi bintang kelas.

Wow...Anda optimis sekali. Bagaimana melakukannya?
Oh, ya dong, harus optimistis. Mempertahankan itu kan lebih susah daripada meraih. Nah, sekarang kita sudah di bintang lima. Jangan sampai kita terlena lalu turun ke bintang empat. Malu dong. Karena itu kita harus mempertahankan ini, dan bahkan bekerja keras menjadi bintang kelas.

Apa yang diraih Garuda selama ini menunjukkan bahwa Garuda tidak main-main. Garuda sedang ada di ujung "Quantum Leap" dan kita sedang ekspansi. Apa yang diraih selama ini menunjukkan kita bisa. Kuncinya semua kita harus bekerja keras.
Jadi kami berkomitmen untuk menjaga dan meningkatkan layanan yang saat ini sudah bintang lima. Saya tegaskan, semua yang kita deliver kepada costumer tidak boleh bergeser satu senti (sentimeter, Red) pun.

Secara layanan Garuda sudah berada di top level. Tapi sepanjang tahun lalu, Garuda mengalami kerugian. Apa yang terjadi?
Begini, industri penerbangan di seluruh dunia memang sedang mengalami turbulensi. Untuk maskapai nasional, pergumulannya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, harga bahan bakar tahun lalu sempat mencapai harga tertinggi, serta aspek regulatory yang kurang kondusif terhadap industri penerbangan. Bahkan kondisi ini sudah sejak tahun 2013, saat itu INACA (Asosiasi Penerbangan Nasional Indonesia, Red) juga "berteriak" agar pemerintah menaikkan tarif batas atas. Bahkan ada beberapa maskapai sampai ada yang bangkrut kan.

Nah, di tengah kondisi makro yang seperti itu, Garuda justru sedang berada pada tahapan ekspansi yang merupakan bagian akhir dari "Quantum Leap 2010-2015". Kalau maskapai sedang ekspansi biasanya memang rugi. Dulu Citilink waktu ekspansi kan juga loss dulu, tapi akhirnya make profit juga. Jadi ini memang siklusnya begitu, cuma kondisi makro sedang tidak baik, jadi ruginya membesar.

Bagaimana tahun ini?
Tahun ini kondisi akan membaik, didorong oleh turunnya harga avtur. Dengan turunnya harga avtur, kondisi keuangan akan lebih baik sebab mayoritas beban operasional industri penerbangan adalah untuk bahan bakar. Ini akan sangat membantu kita. Tapi kita tidak mau bergantung pada turunnya harga avtur. Apalagi, harga avtur sangat fluktuatif. Kalau perbaikan keuangan cuma karena avtur turun, ya sama saja kita tidur, tidak kerja. Kita akan inovasi dan kerja keras untuk memperbaikinya. Sebab, meski avtur turun, indikator lainnya masih cukup berat. Kurs AS akan semakin menguat dan akan membuat kurs rupiah dan mata uang lainnya menjadi lemah. Bukan cuma rupiah, yen Jepang juga akan flat. Itu kan pasar kita juga. Apalagi, penerbangan nasional tahun lalu mengalami anomali. Tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan penumpang itu dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tahun lalu berbeda. Ekonomi tumbuh 5,1 persen, tapi penumpang udara cuma tumbuh lima persen, harusnya kan 10 persenanlah. Nah, karena itu kita akan menghitung betul tahun ini. Jadi kita akan bekerja keras untuk segera rebound.

Jadi tahun ini Garuda akan rebound?
Ya, saya harap begitu. Pemerintah menugaskan saya memang untuk itu. Jadi target kita enam bulan ini. Awal tahun kan itu masa low seasons bagi industri penerbangan, nah kalau enam bulan ini kita sudah bisa atasi, maka berikutnya akan lebih mudah. Kita monitor sekarang harian dan traffic saat ini sudah lebih baik dari tahun lalu, padahal sekarang sedang low seasons.

Bagaimana caranya?
Untuk segera rebound, kita canangkan tiga strategi yakni peningkatan revenue generator, di mana seluruh potensi yang dapat meningkatkan revenue perusahaan akan dimaksimalkan. Kemudian, restructure cost driver, di mana kita akan melakukan penataan dan restrukturisasi biaya sehingga dapat dicapai efisiensi yang tinggi. Selanjutnya, aspek refinancing, di mana Garuda akan menerapkan berbagai langkah dan strategi menyangkut aspek keuangan, sehingga kondisi finansial perusahaan terjaga.

Strategi tersebut kita lakukan dengan program quick wins yang menjadi tiga pilar utama jangka pendek. Pertama adalah restrukturisasi network. Garuda akan mengoptimalkan rute-rutenya, sehingga network penerbangan Garuda menjadi lebih concise, solid dan lebih lincah dalam menghadapi persaingan industri penerbangan. Jadi bukan menutup rute, tapi memaksimalkan, dengan cara frekuensinya kita kurangi, lalu dialihkan ke tempat lain, misalnya Tiongkok dan Timur Tengah.

Kedua, adalah fleet management. Secara branding kita tidak mau reaktif, kita harus menjaga terus sebagai maskapai full service. Tapi secara unit cost kita harus merespons, dengan cara meningkatkan kapasitas ekonomi dan mengurangi kelas bisnis. Jadi kita aman di unit cost tapi tidak turunkan high quality service kita. Kita akan lakukan early termination beberapa pesawat, melaksanakan sublease dan melakukan penyesuaian jumlah kursi di kelas bisnis pada tipe pesawat narrow body Boeing 737-800NG, dari 12 kursi kelas bisnis menjadi delapan kursi. Penyesuaian tersebut akan meningkatkan kapasitas kelas ekonomi 15-20 persen.

Ketiga adalah penurunan overhead. Garuda, akan melaksanakan penurunan biaya overhead hingga sebesar 10 persen melalui pemotongan biaya yang tidak memberikan nilai tambah dan peningkatan produktivitas karyawan.

Sebagai ketua umum INACA, apa yang dibutuhkan oleh industri maskapai nasional?
Sejumlah regulasi memang masih membebani airline. Antara lain penerapan harga avtur di Indonesia yang lebih tinggi 12 persen dibandingkan beberapa negara ASEAN, padahal komponen biaya avtur merupakan komponen biaya tertinggi, yaitu sekitar 40 sampai 50 persen dari total biaya. Tantangan lain, kebijakan bea masuk dan PPN untuk impor spare parts pesawat. Perawatan dan perbaikan pesawat merupakan aktivitas utama airline dalam menjamin keselamatan penerbangan yang optimal, dan komponen biayanya mencapai 10 persen dari total biaya.

Beberapa negara ASEAN memberlakukan pembebasan bea masuk atau penerapan tarif nol persen, sehingga airline nasional tidak berada di playing field yang sama dengan airline ASEAN lain. Ini kan barang modal semua, tapi baru masuk belum memproduksi sudah dikenakan tarif. Airline juga dibebani dengan kebijakan PPN untuk operating lease pesawat yang total komponennya mencapai 15 sampai 20 persen dari total biaya.

Kemudian soal tarif. Kita berharap tarif batas atas dilepas saja. Maskapai dikenakan kenaikan tarif airport, PSC, dan AirNav, sementara tarif penerbangan domestik dibatasi oleh peraturan. Ini kan sudah kompetitif, jadi lebih bagus dilepas saja.

Anda adalah orang Garuda, berkarier dari bawah, sempat ke Citilink dan sekarang kembali menjadi CEO. Apa rasanya?
Ya saya tidak nyangka jadi dirut Garuda. Apalagi Bu Rini (Rini Soemarno, menteri BUMN, Red) justru tanya saya soal Merpati, tidak ditanya sedikit pun soal Garuda. Saya sempat mikir, jangan-jangan disuruh urus Merpati. Sampai malam itu (malam sebelum RUPSLB Garuda, Red) saya belum mendapat kepastian. Apalagi di Citilink kan juga baru, dan Citilink jauh lebih kecil dibanding Garuda. Garuda is very big. Ibaratnya Citilink itu simulator, Garuda ini pesawat beneran. Kompleksitasnya jauh leih besar, tingkat persaingannya jauh lebih besar, musuhnya juga skill-nya lebih besar. Kalau di full service itu selain "gajah-gajah" yang sudah ada di situ, kita juga meski mewaspadai LCCN yang mencoba menarik pasar. Artinya yang di grey area akan berpotensi tertarik ke bawah.

Jadi garuda itu very challenging bagi saya. Seminggu pertama (berat badan, Red) saya turun 2 kilogram, terus turun lagi 2 kilogram. Jadi setengah bulan saya turun 4 kilogram.

Apa pesan Anda untuk karyawan Garuda?
Saya meniti karier dari bawah di Garuda dan sekarang dipercaya menjadi CEO. Jadi pesan saya kita kerja dengan sungguh-sungguh. Sebagai orang yang sejak awal bekerja di Garuda, ownership kepada perusahaan harus lebih tinggi. Tapi jangan sampai over posesif, sehingga hanya kita yang bisa ada di Garuda, orang lain tidak. Sampai orang luar masuk kita tidak suka. Ini perusahaan terbuka, sangat profesional, semua harus jelas pertanggungjawabannya. Jadi mindset-nya harus siapa pun yang bisa bawa Garuda lebih maju dan berkembang, maka kita harus dukung. Sebab Garuda ini the pride of nation, jadi siapa pun punya hak sama untuk memperjuangkan Garuda.

Penulis: Yohanes H Daughlas/AB

Sumber:Suara Pembaruan

Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tertibkan Calo, Loket Penjualan Tiket di Bandara Soetta Akan Ditutup

Metrotvnews.com, Tangerang: Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, terus berbenah. Mulai 15 Februari 2015 mendatang, tidak akan ada layanan penjualan atau loket tiket di bandara internasional tersebut. PT Angkasa Pura II, pengelola bandara, menutup semua loket penjualan tiket di kawasan Bandara Soetta untuk menertibkan calo tiket.

"Penghapusan loket penjualan tiket mulai efektif berlaku per 15 Februari mendatang," ujar Senior General Manager Bandara Soekarno-Hatta Bram Bharoto Tjiptadi dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com, Minggu (1/2/2015).

Menurut Bram, rencana penghapusan loket penjualan tiket di bandara sudah dipersiapkan sejak lama oleh pengelola Bandara Soetta. Namun, rencana itu baru bisa dieksekusi sekarang. "Tujuannya, meningkatkan layanan pengguna jasa bandara," tutur Bram.

Menurut Manager Humas dan Protokol Bandara Soekarno-Hatta Yudis Tiawan, rencana penghapusan loket penjualan tiket ini merupakan kesepakatan Angkasa Pura II, maskapai penerbangan, dan Otoritas Bandara Soekarno-Hatta. Ini berarti tidak ada lagi konter tiket di Terminal 1, 2, dan 3 bandara.

Yudis menuturkan, saat ini ada enam loket penjualan tiket di Terminal 1 A, B, dan C, masing-masing milik maskapai penerbangan Lion Air, Batik Air, Sriwajaya Air, dan Citilink. Di Terminal 2, konter pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia.  Sedangkan di Terminal 3, konter pesawat milik maskapai Air Asia.
Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Konstruksi Jalur Kereta Bandara Mulai Bulan Ini

TEMPO.CO , Tangerang: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang, Said Endra Wiyanto, memastikan pelaksanaan konstruksi pembangunan jalur kereta Batu Ceper-Bandara Soekarno-Hatta bisa dimulai Februari ini. Sebab, masalah lahan yang selama ini menjadi kendala sudah 100 persen selesai dibebaskan. "Masalah lahan sudah teratasi, 100 persen bebas. Kami pastikan proyek ini dimulai Februari ini," kata Said kepada Tempo.

Said menjelaskan, kendala pembebasan lahan selama ini bertumpu pada 297 bidang tanah di Kelurahan Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Alotnya tawar menawar harga tanah di RW 09, 11, dan 12 ini membuat pembangunan rel kereta api dari Poris Plawad ke Soekarno-Hatta belum bisa dilakukan. Padahal, jalur kereta dari Jakarta ke Poris Plawad sudah siap (Baca:
Proyek Kereta Bandara, 400 Tiang Pancang Dibangun).

Menurut Said, dengan tuntasnya masalah lahan di Kelurahan Tanah Tinggi, proses pembebasan total 679 bidang tanah di 8 Kelurahan meliputi Poris Plawad, Tanah Tinggi, Batu Sari, Batu Jaya, Blendung, Karang Anyar, Karang Sari, dan Neglasari tuntas. "Tinggal melanjutkan ke tahap konstruksi," ujar Said.

Jalur rel kereta api Tanah Tinggi, yang nantinya akan diubah menjadi stasiun Batu Ceper, merupakan rangkaian dari paket pembangunan kereta api Jakarta-Bandara Soekarno-Hatta. Jalur sepanjang 12 kilometer ini melintasi lima kecamatan di Kota Tangerang, yaitu Kecamatan Cipondoh (kelurahah Poris Plawad), Kecamatan Tangerang (Kelurahan Tanah Tinggi), Kecamatan Batu Ceper (Kelurahan Batu Jaya dan Batu Sari), Kecamatan Benda (Kelurahan Blendung), dan Kecamatan Neglasari (Kelurahan Neglasari, Karang Sari dan Karang Anyar) (Baca:
PT KAI Ikut Tender Proyek Kereta Bandara).

Said memperkirakan pembangunan jalur kereta Batu Ceper-Bandara akan rampung pertengahan tahun ini sehingga jalur kereta ini tersambung dengan Jakarta. "Jadi kereta api Jakarta-Bandara bisa operasional 2015 ini," katanya. Stasiun Batu Ceper ini akan terhubung dengan stasiun kereta bandara yang kini juga sedang dalam tahap pembangunan.

Stasiun kereta ini akan berdiri di lahan seluas 7.200 m2. Pembangunan diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar Rp 193 miliar. Proyek dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero), yang juga menggarap proyek Terminal 3 Ultimate. Seluruh bangunan stasiun ditargetkan rampung Desember 2015 (Baca juga:
Bandara Juanda Akan Dilayani Kereta Listrik).

Tahap selanjutnya, pembangunan integrated building tahap 2 (area parkir), dimulai pada 2015. Lewat pembangunan area tersebut, penumpang yang naik atau turun kereta dapat langsung menuju Terminal 1 atau Terminal 2. Stasiun ini juga direncanakan terintegrasi dengan automated people mover system yang akan menghubungkan Termimal 1, 2, dan 3 dengan area Sky City.

JONIANSYAH

Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seluruh Ticket Counter di Bandara Soekarno-Hatta Akan Ditutup Pada 15 Februari

Seluruh ticket sales counter yang berada di Bandara Soekarno-Hatta akan ditutup pada 15 Februari mendatang. Penutupan ini dilakukan PT Angkasa Pura II dalam rangka meningkatkan pelayanan bandara.

Manajer Humas dan Protokoler Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudis Tiawan mengatakan, Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan surat edaran terkait hal ini pada 31 Desember 2014 lalu. Surat bernomor: HK.209/I/16PHB.2014 tersebut berisi instruksi agar seluruh pengelola bandara yang ada di Indonesia segera melakukan peningkatan pelayanan publik.

"Ada lima poin di dalamnya, pertama, soal meniadakan ruang penjualan tiket atau ticket sales counter yang ada di gedung terminal penumpang. Kedua, melarang penggunaan taksi yang tidak terdaftar untuk beroperasi di bandara," ujar Yudis, Minggu (1/2/2015) di Tangerang, Banten.

Ketiga, lanjut Yudis, memberlakukan larangan merokok di area sisi udara (airside) dan di ruangan yang memiliki akses ke sisi udara. Keempat, menyediakan customer service lounge bagi airlines untuk melayani kebutuhan penumpang termasuk fare adjustment.

"Sedangkan yang kelima, kami diminta untuk mensosialisasikannya," ujar Yudis.

Saat ini di Bandara Soekarno-Hatta terdapat enam konter tiket. Pada Terminal 1A, B, dan C terdapat konter tiket milik maskapai penerbangan Lion Air, Batik Air, Sriwajaya Air, dan Citilink.

Sedangkan di Terminal 2, terdapat konter tiket pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia. "Kalau di Terminal 3 terdapat konter tiket pesawat milik maskapai Air Asia," rincinya.

Dengan demikian, tambah Yudis, pihaknya mengimbau kepada seluruh pengguna jasa bandara di sana, ketika sampai di terminal sudah memiliki tiket.
Baca Selengkapnya >>>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS